Belakangan ini saat mengulas indikator teknikal, saya menyadari banyak orang masih memahami divergence rate hanya di permukaan, hari ini ingin berbicara tentang indikator yang diremehkan ini.



Sederhananya, indikator bias adalah alat untuk melihat seberapa jauh harga dari moving average. Ketika harga pembelian rata-rata Anda jauh lebih tinggi dari biaya rata-rata selama periode tertentu, pasar biasanya memberi sinyal: hati-hati, harga mungkin akan kembali ke mean. Inilah mengapa banyak trader menggunakan divergence rate untuk menilai kondisi overbought dan oversold.

Cara perhitungannya sebenarnya tidak rumit, yaitu (harga penutupan hari ini − moving average N hari) ÷ moving average N hari × 100%. Hasil positif menunjukkan premi, sedangkan negatif menunjukkan diskon. Misalnya divergence rate adalah 3, berarti harga saat ini 3% di atas moving average. Tapi ada satu pemahaman kunci: harga hampir tidak pernah benar-benar mengikuti moving average secara persis, karena moving average sendiri memiliki lag, jadi divergence pasti ada, perbedaannya hanya pada apakah nilainya masuk akal.

Lalu, apa yang dianggap ekstrem? Tidak ada jawaban standar, tergantung pasar apa yang Anda hadapi. Misalnya, S&P 500 biasanya dianggap ekstrem jika divergence rate mencapai 3-5%, tetapi untuk Bitcoin mungkin harus 8-10%, dan emas sekitar 2-5%. Jadi sebelum menggunakan indikator bias, pastikan melakukan backtest terhadap instrumen yang Anda tradingkan, untuk menemukan nilai ekstrem yang sesuai.

Dalam praktik saya, yang paling sering saya gunakan adalah kombinasi nilai ekstrem dengan pembalikan candlestick. Ketika divergence rate sudah jauh dari nilai ekstrem, meskipun tidak bisa dipastikan tepat di candlestick mana pembalikan akan terjadi, secara historis area ini biasanya merupakan titik terendah, sehingga bisa melakukan pembelian bertahap untuk mengurangi biaya. Metode lain yang berguna adalah sinyal divergence bullish, yaitu saat harga membuat low baru tetapi divergence rate tidak ikut membuat low baru, ini sering menandakan tekanan jual mulai melemah, dan ini bisa menjadi peluang masuk yang bagus.

Tapi ingat satu hal: divergence rate hanyalah alat bantu, jangan bergantung sepenuhnya padanya untuk menentukan beli atau jual. Dalam tren yang kuat, harga bisa tetap ekstrem divergence dalam waktu lama, dan jika melawan tren, hanya akan mendapatkan pelajaran dari pasar. Cara terbaik adalah menggabungkan indikator lain, seperti RSI yang masuk ke zona oversold, dan divergence rate yang berada di ekstrem negatif, baru pertimbangkan untuk masuk posisi.

Trader jangka pendek biasanya menggunakan moving average 5 atau 10 hari, trader swing menggunakan 20 hari, dan investor jangka panjang melihat 60 hari. Yang penting adalah menemukan parameter yang sesuai dengan periode trading Anda. Dan ingat, indikator hanyalah referensi, tren adalah inti utama. Kadang harga akan berulang di zona divergence ekstrem dan sideways, ini bukan indikator gagal, melainkan pasar sedang mengakumulasi untuk langkah berikutnya.

Kesimpulan sederhana: inti dari indikator bias adalah harga akhirnya akan kembali ke mean, tetapi proses ini mungkin memakan waktu, bahkan dalam tren kuat bisa sementara gagal. Jadi, gunakan indikator ini untuk mengingatkan diri sendiri “apakah posisi saat ini masuk akal”, jauh lebih berguna daripada menggunakannya untuk memprediksi bottom atau top secara tepat.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Disematkan