Laporan Standard Chartered: Bagaimana Stablecoin dan Tokenisasi RWA Mengubah Pembayaran Korporasi Lintas Negara

Pasar
Diperbarui: 2026/05/15 10:29

Menurut Laporan Riset Global Stablecoin dari Standard Chartered, stablecoin kini berkembang dari sekadar perantara dalam perdagangan aset kripto menjadi alat penyelesaian transaksi inovatif di dalam ekosistem keuangan digital. Stablecoin mulai terintegrasi ke dalam pembayaran lintas negara korporasi dan pengelolaan likuiditas.

Total penerbitan stablecoin secara global telah melampaui $320 miliar, dengan volume transaksi mencapai lebih dari $28 triliun pada kuartal I 2026—angka tertinggi yang pernah dicapai dalam satu kuartal.

Yang lebih penting, pengguna utama stablecoin kini beralih dari pedagang ritel menjadi tim treasury korporasi di perusahaan multinasional. Penggunaannya pun berkembang dari sekadar instrumen spekulatif menjadi alat pengelolaan kas sehari-hari. Saat ini, aplikasi institusional utama meliputi pembayaran pemasok lintas negara, transfer treasury internal, dan pengelolaan likuiditas lintas pasar.

Mengapa Tokenisasi Aset Dunia Nyata (RWA) Dipandang sebagai Penggerak Pertumbuhan Struktural Berikutnya dalam Keuangan Digital?

Seiring dengan semakin matangnya infrastruktur stablecoin, tokenisasi aset dunia nyata (real-world asset/RWA) muncul sebagai narasi utama berikutnya dalam keuangan digital. Standard Chartered memproyeksikan bahwa pada tahun 2028, nilai pasar RWA yang ditokenisasi akan mencapai sekitar $2 triliun.

Jika tidak menghitung stablecoin, nilai total RWA on-chain di seluruh dunia sudah melampaui $25 miliar—hampir empat kali lipat dari tahun sebelumnya. Menurut Boston Consulting Group, nilai global aset yang ditokenisasi bisa melampaui $16 triliun pada tahun 2030.

Tokenisasi RWA dan stablecoin membentuk siklus pertumbuhan yang saling memperkuat. Ketika perusahaan memegang saldo stablecoin secara on-chain, mereka secara alami juga ingin menempatkan investasi jangka pendek dalam bentuk tokenisasi on-chain, sehingga memungkinkan perpindahan likuiditas dan imbal hasil secara real-time.

Kesenjangan Struktural Apa yang Ada antara Stablecoin USD dan Non-USD?

Salah satu ciri struktural utama pasar stablecoin saat ini adalah konsentrasi mata uang yang tinggi dibandingkan dengan sistem perdagangan yang mendasarinya. Dolar AS menyumbang sekitar 50% dari pembayaran lintas negara global, namun stablecoin USD mewakili lebih dari 98% kapitalisasi pasar stablecoin.

Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan struktural alokasi multi-mata uang sekitar 48 poin persentase di pasar stablecoin. Data dari Visa dan Dune Analytics menunjukkan bahwa dari Januari 2023 hingga Februari 2026, volume transaksi stablecoin non-USD melonjak lebih dari 1.600%, mencapai $1 miliar.

Laporan Standard Chartered mengidentifikasi tiga pendorong struktural utama meningkatnya permintaan stablecoin non-USD: aksesibilitas—sebagai alternatif digital di wilayah dengan sistem perbankan yang kurang berkembang; kecepatan—ketersediaan 24/7 mengurangi gesekan likuiditas lintas zona waktu; dan stabilitas—penyelesaian cepat mempersingkat eksposur risiko terhadap mata uang yang sangat fluktuatif.

Faktor Struktural Apa yang Mendorong Adopsi Besar-besaran Stablecoin Non-USD?

Laporan Standard Chartered menyoroti tiga faktor struktural utama: efisiensi infrastruktur, konsistensi mekanisme penyelesaian lintas negara, dan momentum perdagangan regional.

Efisiensi infrastruktur bergantung pada kematangan saluran pembayaran blockchain, kepatuhan kustodian, dan ketersediaan on/off ramp fiat di pasar sasaran. Konsistensi dalam penyelesaian lintas negara merujuk pada keselarasan kerangka regulasi pembayaran dan standar anti-pencucian uang antar yurisdiksi.

Ambil contoh Taiwan. Dalam "Peringkat Potensi Permintaan Stablecoin Mata Uang Lokal" versi Standard Chartered, Taiwan memperoleh skor 47,8, setara dengan Singapura dan Hong Kong. Perusahaan Taiwan berperan penting dalam rantai pasok dan memiliki kebutuhan berkelanjutan untuk pengelolaan treasury lintas negara, sehingga menciptakan kondisi yang kondusif untuk adopsi stablecoin.

Kasus Penggunaan Pembayaran Korporasi Apa yang Sudah Didukung oleh Stablecoin?

Dalam pengelolaan treasury korporasi, stablecoin terutama digunakan pada tiga area inti: pembayaran pemasok lintas negara, transfer treasury internal, dan pengelolaan likuiditas lintas pasar. Penyelesaian lintas negara secara tradisional memakan waktu dua hingga tiga hari kerja, sementara stablecoin dapat memungkinkan penyelesaian hampir seketika.

Menurut estimasi pendiri Triple-A, modal kerja yang dibutuhkan untuk pembayaran lintas negara dapat dipangkas hingga sepersepuluh dari model tradisional jika menggunakan stablecoin. Pada tahun 2025, volume transaksi stablecoin dari konsumen ke merchant diproyeksikan tumbuh 128% secara tahunan.

Yang lebih menarik, porsi transaksi stablecoin domestik meningkat dari sekitar 50% pada 2024 menjadi hampir 75% pada 2026. Hal ini menunjukkan bahwa stablecoin berkembang dari alat transfer nilai lintas negara menjadi infrastruktur pembayaran universal yang mencakup skenario pembayaran domestik maupun internasional.

Bagaimana Tokenized Deposit Memposisikan Diri dalam Sistem Moneter Dua Lapis?

Tokenized deposit merepresentasikan simpanan bank komersial tradisional dalam bentuk digital di blockchain. Simpanan ini tetap menjadi kewajiban langsung bank penerbit dan tunduk pada regulasi perbankan yang berlaku. Bersama stablecoin dan central bank digital currency (CBDC), tokenized deposit membentuk tumpukan kas on-chain yang lebih luas dalam sistem keuangan.

Secara global, JPMorgan telah meluncurkan platform Kinexys untuk pembayaran terprogram dan penyelesaian valuta asing secara real-time, sementara BNY Mellon menghadirkan layanan tokenized deposit untuk pengelolaan agunan. Di Eropa, Inggris sedang melakukan uji coba tokenized deposit GBP untuk pembayaran marketplace online.

Tokenized deposit menawarkan "jalan tengah": tetap memberikan perlindungan regulasi seperti simpanan bank tradisional, namun memanfaatkan teknologi blockchain untuk efisiensi penyelesaian yang lebih tinggi. Namun, interoperabilitas masih menjadi tantangan terbesar bagi adopsi secara luas.

Bagaimana Partisipasi Institusional dan Kepastian Regulasi Membentuk Ulang Trajektori Stablecoin dan RWA?

Tahun 2026 dipandang luas sebagai titik balik penting bagi tokenisasi RWA, didorong oleh laju adopsi institusional dan kepastian regulasi. Lebih dari setengah dari 20 perusahaan manajemen aset terbesar dunia berencana meluncurkan produk tokenisasi.

Setelah diberlakukannya US GENIUS Act, volume perdagangan stablecoin meningkat signifikan, dengan volume transaksi yang disesuaikan mencapai sekitar $4,5 triliun pada kuartal I 2026. Di Eropa, kerangka MiCA terus mendorong permintaan stablecoin non-USD yang kuat.

Di Tiongkok, regulator menerapkan pendekatan "buka pintu depan, tutup pintu samping", dengan secara bersyarat mengizinkan aset domestik diterbitkan sebagai asset-backed security token di luar negeri dan memasukkan RWA ke dalam kerangka regulasi sekuritisasi aset. Efek saling memperkuat antara kepastian regulasi dan partisipasi institusional mendorong stablecoin dan RWA dari tahap eksperimentasi menuju adopsi berskala besar.

Kesimpulan

Laporan Global Stablecoin Standard Chartered mengungkap paradigma baru yang tengah berkembang pesat di keuangan digital: stablecoin dan tokenisasi RWA bergerak dari konsep menuju aplikasi nyata, secara bertahap terintegrasi dalam pembayaran lintas negara korporasi dan pengelolaan likuiditas. Pada kuartal I 2026, volume transaksi stablecoin melampaui $28 triliun, dengan transaksi stablecoin non-USD melonjak lebih dari 1.600%. Stablecoin berkembang menjadi infrastruktur keuangan fundamental bagi operasional perusahaan, sementara tokenisasi RWA membangun sistem tokenisasi aset yang lebih luas di atas kas on-chain. Sinergi antara adopsi institusional dan kepastian regulasi mendorong sistem keuangan digital dari pinggiran menuju arus utama. Konvergensi stablecoin dan RWA kini mendefinisikan ulang logika penyelesaian dalam sistem keuangan global.

FAQ

T: Berapa angka terbaru pasar stablecoin global menurut laporan Standard Chartered?

Penerbitan stablecoin secara global telah melampaui $320 miliar, dengan volume transaksi total menembus $28 triliun pada kuartal I 2026—rekor tertinggi dalam satu kuartal. (Data per 15 Mei 2026)

T: Seberapa besar kesenjangan pangsa pasar antara stablecoin USD dan stablecoin non-USD?

Stablecoin USD menguasai lebih dari 98% nilai pasar, sementara dolar AS hanya mewakili sekitar 50% pembayaran lintas negara global, sehingga terdapat kesenjangan struktural sekitar 48 poin persentase.

T: Berapa proyeksi nilai pasar tokenisasi RWA?

Standard Chartered memperkirakan bahwa pada 2028, nilai pasar RWA yang ditokenisasi akan mencapai sekitar $2 triliun. Saat ini, nilai RWA on-chain (di luar stablecoin) telah melampaui $25 miliar.

T: Apa saja kasus penggunaan utama stablecoin untuk pembayaran korporasi?

Terdapat tiga kategori utama: pembayaran pemasok lintas negara, transfer treasury internal perusahaan, dan pengelolaan likuiditas lintas pasar.

T: Inisiatif apa saja yang telah dilakukan Standard Chartered di bidang RWA dan stablecoin?

Melalui SC Ventures, Standard Chartered telah menginkubasi Libeara (yang kini mendukung lebih dari $1 miliar aset on-chain) dan melakukan investasi strategis di GSR untuk mempercepat pengembangan infrastruktur aset digital.

The content herein does not constitute any offer, solicitation, or recommendation. You should always seek independent professional advice before making any investment decisions. Please note that Gate may restrict or prohibit the use of all or a portion of the Services from Restricted Locations. For more information, please read the User Agreement
1