Menurut Reuters dan riset industri oleh Mystee, produksi Indonesia nickel laterite hydroxide (MHP) turun menjadi 27.200 ton pada April 2026, turun 16,31% secara bulanan dan 13,07% secara tahunan. Penurunan ini mencerminkan berkurangnya output dari jalur pengolahan pirometalurgi Indonesia untuk mengalihkan daya ke smelter aluminium di tengah keterbatasan listrik di kawasan industri. Produksi nikel refinisi Tiongkok juga menyusut menjadi 35.250 ton pada April, turun 5,59% secara bulanan dan 3,29% secara tahunan, menurut data dari laporan riset Chaotic Tianyi Futures yang diterbitkan pada 19 Mei. Penurunan produksi lebih lanjut diperkirakan terjadi pada Mei saat tekanan dari sisi pasokan mereda.
Berita Terkait
Staking Ethereum Capai 31% Saat Harga Mengalami Kinerja Buruk Dibanding Pertumbuhan On-Chain
Pratinjau Likuiditas Kripto Berubah Setelah Jeda The Fed
Aktivitas Pembakaran Shiba Inu Melonjak 1.034% Lebih Tinggi, Memotong Suplai Beredar Sebanyak 27 Juta SHIB