LG Display mengumumkan pada 23 April bahwa laba operasi kuartal pertama melonjak 338% menjadi 146,7 miliar won (US$99,8 juta), menandai laba kuartal ketiganya berturut-turut, meskipun pendapatan turun 9% year-on-year menjadi 5,5 triliun won (US$3,76 miliar), menurut laporan kinerja perusahaan.
Secara kuartal-ke-kuartal, baik pendapatan maupun laba operasi menurun. Namun, EBITDA mencapai 1,1 triliun won (US$776 million). Produk OLED menyumbang 60% dari pendapatan, naik 5 poin persentase dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Meningkatnya profitabilitas LG Display meski pendapatan lebih rendah mencerminkan pergeseran strategisnya menjauh dari panel layar kristal cair besar (LCD). Perusahaan tersebut keluar dari bisnis LCD margin lebih rendah, termasuk penjualan fasilitas manufakturnya di Guangzhou, Tiongkok. Langkah keluar ini membebaskan modal untuk memperluas produksi OLED berukuran kecil dan menengah.
Peralihan tersebut membutuhkan investasi yang signifikan. LG Display memperoleh pinjaman sebesar 1 triliun won (US$680 million) dari perusahaan saudara LG Electronics, afiliasi elektronik konsumen LG Group, untuk “meningkatkan daya saing dioda pemancar cahaya organik (OLED) dan mengamankan dana operasional”.
Kemampuan mobile OLED LG Display telah menempatkannya sebagai pemasok kunci bagi Apple, yang berupaya mendiversifikasi sumber layar OLED dan mengurangi ketergantungan pada Samsung Electronics untuk layar iPhone. Hubungan ini dimulai dengan pesanan awal sekitar 2 juta hingga 4 juta unit layar OLED untuk iPhone. Apple kemudian menginvestasikan US$2,7 miliar di LG Display untuk memastikan produksi panel OLED untuk model iPhone 2018-nya. Kemitraan ini telah memberi Apple daya tawar yang lebih besar dalam pembahasan harga dan mengurangi risiko konsentrasi rantai pasok.