Debat sengit mengenai kekuatan harga dan proposisi nilai Ethereum tengah berlangsung antara pelaku Wall Street dan pasar kripto tradisional.
Pada pertengahan Mei 2026, tim analis JPMorgan merilis laporan yang menyatakan bahwa kecuali ada peningkatan signifikan dalam aktivitas jaringan Ethereum, keuangan terdesentralisasi (DeFi), dan aplikasi dunia nyata, kinerja Ethereum yang terus-menerus tertinggal dibandingkan Bitcoin sejak 2023 kemungkinan akan berlanjut. Pada waktu yang hampir bersamaan, salah satu pendiri Fundstrat, Tom Lee, kembali menegaskan pandangan super bullish-nya terhadap ETH—dengan target harga sebesar $62.000.
Dua narasi ini bertabrakan secara langsung: satu menyoroti kelemahan struktural, yang lain melihat peluang bersejarah. Berdasarkan data pasar Gate, per 18 Mei 2026, ETH diperdagangkan di harga $2.121,01, turun 2,42% dalam 24 jam terakhir. Harga ini berada tepat di titik kritis yang diawasi ketat oleh pihak bullish maupun bearish.
Titik Awal: Dua Laporan, Dua Arah
Pada 15 Mei 2026, sebuah laporan analisis pasar kripto yang dipimpin oleh Managing Director JPMorgan, Nikolaos Panigirtzoglou, dirilis. Penilaian utamanya: meskipun pasar secara keseluruhan stabil setelah aksi jual yang dipicu ketegangan geopolitik di Iran, pemulihan Ethereum dan altcoin lain jauh lebih lemah dibandingkan Bitcoin. Laporan tersebut berpendapat bahwa kecuali Ethereum menunjukkan perbaikan nyata dalam aktivitas on-chain, DeFi, dan kasus penggunaan praktis, kelemahan relatifnya terhadap Bitcoin akan terus berlanjut.
Respons Tom Lee pun tak kalah tegas. Ia secara terbuka kembali menegaskan target harga ETH di $62.000. Target ini bukan sekadar angka acak—logika utamanya adalah kapitalisasi pasar Ethereum perlu mencapai sekitar 25% dari Bitcoin, sebuah premi struktural yang signifikan secara historis. Ia juga menawarkan dua skenario tambahan: $12.000 (jika rasio ETH/BTC kembali ke rata-rata historis delapan tahun) dan $22.000 (jika kembali ke rasio puncak bull market 2021).
Perdebatan ini tidak muncul begitu saja. Pada kuartal I 2026, total kapitalisasi pasar kripto turun sekitar 20,4%, dengan Ethereum anjlok lebih dari 30%. Pasca konflik Iran, modal institusional mengalir kembali secara selektif ke pasar—Bitcoin menyerap sebagian besar arus masuk, sementara pemulihan Ethereum tertinggal. Perhatian dan modal kini didistribusikan ulang, dan apakah ETH mampu mempertahankan statusnya sebagai "aset kripto terbesar kedua" menjadi inti dari perdebatan ini.
Divergensi Modal: Apa yang Diungkap Data ETF dan Futures
Laporan JPMorgan mengutip data kontras yang sangat informatif: setelah aksi jual, ETF spot Bitcoin telah memulihkan sekitar dua pertiga dari arus keluar bersihnya, sementara ETF spot Ethereum hanya memulihkan sekitar sepertiga. Hingga pertengahan Mei, arus masuk bersih kumulatif untuk ETF spot Bitcoin melampaui $58,6 miliar, sedangkan untuk ETF spot Ethereum sekitar $11,83 miliar. Data terbaru menunjukkan bahwa pada pekan 11–15 Mei, ETF spot Ethereum mencatat arus keluar bersih sebesar $255 juta, dengan BlackRock’s ETHA sendiri menyumbang $185 juta—bukti nyata adanya tekanan jual.
Posisi futures CME juga menunjukkan divergensi: investor institusi jauh lebih agresif membangun kembali eksposur risiko Bitcoin dibandingkan Ethereum. Posisi Bitcoin hampir kembali ke level sebelum penurunan, sementara open interest Ethereum per 15 Mei hanya sekitar $3,606 miliar, masih berada di level yang relatif rendah.
Namun, terdapat pula sinyal positif dari sisi modal untuk Ethereum. Menurut Gate Research, selama pekan 4–10 Mei, Ethereum mencatat arus masuk bersih lebih dari $2,6 miliar, dengan akumulasi whale dan short covering sempat mendorong pemulihan harga. Namun, keberlanjutan arus masuk ini goyah ketika terjadi arus keluar besar pada pekan berikutnya.
Perbedaan tingkat pemulihan modal ETF ini setidaknya mengindikasikan dua sinyal struktural: pertama, institusi tengah mengklasifikasikan ulang Bitcoin. Begitu ketidakpastian mereda, modal cenderung kembali ke aset yang dianggap sebagai "emas digital" ketimbang "saham pertumbuhan teknologi" seperti platform smart contract. Kedua, lambatnya pemulihan ETF Ethereum bisa jadi bukan sekadar masalah sentimen jangka pendek—jika proposisi nilai intinya gagal menghasilkan pendapatan berkelanjutan dan terukur, logika alokasi institusi akan terguncang. Kesenjangan antara dua pertiga dan sepertiga bukanlah perkara sepele.
Aktivitas On-Chain: Kontras Antara Puncak dan Realitas
Data on-chain menunjukkan gambaran yang kontradiktif.
Pada Februari 2026, jumlah alamat aktif harian Ethereum hampir mencapai 2 juta, melampaui puncak bull run 2021. Pada saat yang sama, jumlah pemanggilan smart contract harian menembus 40 juta, keduanya mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Namun, level ini tidak bertahan lama. Per 15 Mei 2026, volume transaksi on-chain Ethereum turun sekitar 1 juta dari puncak terbaru, alamat aktif harian terus menurun, dan biaya gas tetap rendah. Arus masuk staking anjlok lebih dari 80%. Sementara itu, data DeFiLlama menunjukkan total value locked (TVL) di protokol DeFi Ethereum sekitar $45,5 miliar, dengan pangsa pasar DeFi Ethereum turun dari 63,5% di awal 2025 menjadi sekitar 53% pada Mei 2026.
Ketidaksesuaian antara rekor alamat aktif dan penurunan pendapatan jaringan menimbulkan pertanyaan utama: apakah penggunaan semata sudah cukup untuk menghasilkan nilai? Model pendapatan Ethereum tengah mengalami pergeseran mendasar. Solusi scaling Layer 2 terus memindahkan eksekusi transaksi dari mainnet, dan biaya gas mainnet yang rendah secara langsung melemahkan efek mekanisme burn EIP-1559—ETH yang dibakar berkurang, pertumbuhan suplai bersih meningkat, sehingga menekan harga secara struktural. Data menunjukkan alamat aktif bulanan Layer 2 turun dari sekitar 58,4 juta pada pertengahan 2025 menjadi sekitar 30 juta pada Februari 2026, penurunan hampir 50%. Sementara itu, alamat aktif mainnet melonjak dari sekitar 7 juta menjadi 15 juta. Migrasi pengguna kembali ke mainnet ini mengindikasikan daya tarik jangka panjang Layer 2 sebagai alat scaling mulai memudar, namun biaya mainnet yang rendah saja belum cukup untuk menciptakan tekanan deflasi efektif bagi ETH.
Narasi Inflasi: Kerusakan Mekanisme Burn dan Kontradiksi Sisi Suplai
Salah satu poin paling krusial namun kerap diabaikan dalam laporan JPMorgan adalah dinamika suplai Ethereum.
Tiga tahun terakhir, pembaruan teknis terutama berfokus pada penurunan biaya transaksi Layer 2. Hal ini berhasil memperluas ekosistem, namun dengan konsekuensi penurunan tajam biaya mainnet. Di bawah EIP-1559, sebagian biaya jaringan dibakar secara permanen—biaya rendah berarti ETH yang dibakar makin sedikit, sehingga pertumbuhan suplai bersih meningkat. Dengan kata lain, Ethereum perlahan bergeser dari "aset deflasi" menuju inflasi ringan.
Dua pembaruan besar yang dijadwalkan pada 2026—Glamsterdam dan Hegota—akan memperkuat tren ini. Glamsterdam, yang diperkirakan meluncur pada kuartal III, akan meningkatkan block gas limit dari 60 juta menjadi 200 juta (naik 233%) dan memperkenalkan ePBS (pemilahan proposer-builder dalam protokol) serta eksekusi transaksi paralel, menargetkan throughput jaringan 10.000 TPS. Hegota, yang dijadwalkan akhir tahun, akan memperkenalkan Verkle Trees, memangkas kebutuhan penyimpanan node sekitar 90%. Pertanyaan utama dari para analis: meski upgrade scaling ini akan meningkatkan performa secara signifikan, mampukah mereka menghasilkan permintaan dan aktivitas jaringan baru yang cukup untuk mengimbangi tekanan inflasi akibat lemahnya mekanisme burn?
Narasi "ultrasound money" telah menjadi salah satu pilar valuasi ETH terpenting selama empat tahun terakhir. Ketika tingkat burn sistematis menurun akibat upgrade scaling, fondasi narasi ini pun terguncang. Namun, narasi yang terguncang bukan berarti mati. Jika pemrosesan transaksi paralel Glamsterdam mampu menarik cukup banyak aplikasi dan aktivitas transaksi baru ke mainnet, total pendapatan biaya bisa tetap naik—meski biaya per transaksi lebih rendah, volume agregat dapat menutupi. Masalahnya: ini masih sebatas hipotesis, bukan kepastian.
Tesis $62.000 Tom Lee: Proyeksi, Bukan Prediksi
Target $62.000 untuk ETH dari Tom Lee layak ditelaah lebih dalam.
Angka ini bukan sekadar teriakan hype—ia didasarkan pada asumsi rasio ETH/BTC mencapai 0,25. Jika Ethereum menjadi lapisan inti infrastruktur pembayaran global, kapitalisasi pasarnya bisa mencapai seperempat Bitcoin. Untuk skenario yang lebih pragmatis: jika rasio kembali ke rata-rata historis delapan tahun sekitar 0,0479, ETH akan diperdagangkan sekitar $12.000; jika kembali ke puncak bull market 2021 sekitar 0,0873, harganya sekitar $22.000. Dari sisi teknikal, Lee percaya jika ETH menutup Mei di atas $2.100, maka akan keluar dari pola konsolidasi lima tahun, menandakan berakhirnya masa lesu pasar yang berkepanjangan.
Penting dicatat, perusahaan afiliasi Lee, Bitmine Immersion, tengah membangun treasury korporat Ethereum skala besar dan saat ini memegang sekitar 5,18 juta ETH, sekitar 4,29% dari total suplai beredar, dengan target naik menjadi 5% pada 2026. Artinya, sikap ultra-bullish Lee terkait langsung dengan kepentingan bisnisnya.
Dari perspektif narasi, setiap target Lee pada dasarnya bersifat kondisional. "Jika" rasio kembali ke rata-rata, ke puncak, atau ke ekstrem historis 0,25, maka harga yang sesuai akan tercapai. "Jika" harga penutupan Mei menembus $2.100, sinyal bull market terkonfirmasi. Ini bukan prediksi, melainkan proyeksi bersyarat. Pada akhirnya, harga pasar adalah ujian sebenarnya. Per 18 Mei, ETH diperdagangkan sekitar $2.121,01—baru menyentuh, namun belum benar-benar menembus, ambang teknikal yang dinantikan itu.
Mungkinkah Upgrade Teknis Menjadi Titik Balik?
Ethereum menyelesaikan dua upgrade protokol besar pada 2025: Pectra (aktif 7 Mei) memperkenalkan EIP-7702, memungkinkan externally owned account untuk sementara menjalankan kode smart contract, sehingga mendukung transaksi batch dan sponsor biaya gas; Fusaka (aktif 3 Desember) meluncurkan sistem PeerDAS, yang secara signifikan meningkatkan kapasitas data melalui validasi sampling dan menaikkan block gas limit default menjadi 60 juta.
Analisis JPMorgan mengungkap fakta pahit: tiga tahun terakhir, upgrade teknis Ethereum belum menghasilkan pertumbuhan kualitatif aktivitas on-chain. Setelah Pectra dan Fusaka aktif, pendapatan jaringan ETH tidak mengalami perbaikan struktural, dan rasio ETH/BTC terus menurun. Namun, ini tidak berarti upgrade mendatang pasti gagal. Perbedaan utama Glamsterdam adalah skala—kenaikan gas limit 233% bisa memungkinkan aplikasi yang sebelumnya mustahil karena keterbatasan performa. Pertanyaan nyata: apakah developer akan memilih membangun aplikasi tersebut di Ethereum, yang bergantung pada biaya, pengalaman pengguna, dukungan ekosistem, dan faktor lain—bukan sekadar throughput L1.
Kesimpulan
Perbedaan antara JPMorgan dan Tom Lee bukan sekadar soal bullish atau bearish terhadap harga ETH—ini adalah benturan dua logika investasi.
JPMorgan mendasarkan analisis pada arus modal aktual, pendapatan jaringan, dan kinerja relatif, mengikuti paradigma keuangan tradisional: menafsirkan apa yang terjadi sekarang, bukan memprediksi titik balik masa depan. Tom Lee, sebaliknya, mendasarkan analisis pada mean reversion rasio, siklus historis, dan transformasi struktural—sebuah paradigma yang lebih dekat dengan para perintis kripto: bertaruh pada revaluasi nilai pasca lompatan teknologi, mengutamakan imajinasi narasi ketimbang data terkini.
Bagi pelaku pasar, kuncinya bukan menilai pihak mana yang "benar"—karena kebenaran kemungkinan ada di tengah—melainkan memahami dilema inti yang kini dihadapi ETH: Ethereum mencatat rekor alamat aktif dan efek jaringan, namun mekanisme penangkapan nilainya tengah mengalami pergeseran struktural. Upgrade teknis mendatang menawarkan potensi terobosan, namun hingga saat itu, pasar belum akan menghargainya di muka.
Per 18 Mei 2026, menurut data pasar Gate, ETH diperdagangkan di $2.121,01, turun 2,42% dalam 24 jam terakhir dan 1,55% dalam setahun terakhir. Angka-angka ini berbicara sendiri: pasar belum memvalidasi vonis bearish maupun mengapresiasi ramalan bullish. Pasar masih menunggu bukti nyata dari on-chain yang benar-benar akan mengubah permainan.




