Pada Juni 2026, total kapitalisasi pasar aset dunia nyata (Real-World Assets/RWA) yang ditokenisasi secara on-chain melonjak hingga sekitar $26,4 miliar. Pada awal 2025, angka ini baru mencapai $5,4 miliar—menandai peningkatan hampir lima kali lipat hanya dalam 15 bulan. Analis Bernstein menetapkan 2026 sebagai tahun perdana "supercycle" tokenisasi, sementara skenario dasar McKinsey memproyeksikan pasar aset tokenisasi (tidak termasuk stablecoin dan CBDC) akan mencapai sekitar $2 triliun pada 2030, dengan skenario optimistis hingga $4 triliun.
Dari $5,4 miliar ke $26,4 miliar, lalu ke $2 triliun—ini bukan sekadar kisah visi; ini adalah catatan nyata yang sedang berlangsung.
Awal Supercycle: Bagaimana Data Mendefinisikan 2026
Pada kuartal pertama 2026, total volume perdagangan kontrak perpetual RWA mencapai $524,79 miliar, meningkat 1.666% secara tahunan. Angka ini sudah melampaui total volume perdagangan sepanjang 2025 yang sebesar $313,02 miliar. Open interest harian untuk kontrak perpetual RWA melonjak dari $140 juta pada 1 Januari 2025 menjadi $6,68 miliar per 31 Maret 2026. Rata-rata open interest harian di Q1 mencapai $4,82 miliar—lebih dari lima kali lipat rata-rata harian tahun 2025 yang sebesar $850 juta.
Data ini menunjukkan adanya pergeseran struktural yang jelas: RWA telah berevolusi dari eksperimen pinggiran dalam ekosistem kripto menjadi jalur utama alokasi modal institusional berskala besar.
Dari sisi distribusi kelas aset, treasury yang ditokenisasi tetap menjadi kekuatan dominan di sektor RWA. Per Mei 2026, kapitalisasi pasar treasury tokenisasi telah melampaui $16 miliar, setara 55,9% dari total kapitalisasi pasar RWA. Pada Januari 2025, segmen ini baru sekitar $3,95 miliar. Pendorong utama pertumbuhan ini adalah tingginya permintaan dari penerbit stablecoin, protokol DeFi, dan kas institusional untuk eksposur treasury jangka pendek secara on-chain.
Kapitalisasi pasar komoditas tokenisasi mencapai sekitar $7,3 miliar pada Mei 2026, naik 40% dari $5,21 miliar di akhir Januari 2026. Token emas—dipimpin oleh XAUt dari Tether dan PAXG dari Paxos—mewakili 99,8% pasar komoditas tokenisasi. Sementara itu, ekuitas tokenisasi mencatat rekor tertinggi $2,41 miliar pada Mei 2026, menandai pertumbuhan selama empat belas bulan berturut-turut.
Institusi Masuk ke Arena: Dari "Mengapa" ke "Mengapa Tidak"
Perubahan paling menonjol di 2026 bukan hanya soal skala—melainkan siapa yang mendorong skala tersebut.
USD Institutional Digital Liquidity Fund (BUIDL) milik BlackRock saat ini menjadi dana tokenisasi terbesar. Hingga pertengahan Mei 2026, dana kelolaan BUIDL telah mencapai $2,58 miliar, memperoleh peringkat AAA-mf tertinggi dari Moody’s—pertama kalinya dana tokenisasi mendapat peringkat setara instrumen pasar uang tradisional. Pada Juni 2026, BlackRock mengumumkan ekspansi BUIDL ke berbagai blockchain, termasuk Aptos, Arbitrum, Avalanche, Optimism, dan Polygon.
Ondo Finance juga menjadi institusi yang patut diperhatikan. Dana treasury jangka pendek tokenisasi andalannya, OUSG, telah melampaui $770 juta dana kelolaan, mendukung langganan dan penebusan 24/7 di Ethereum, Solana, XRP Ledger, dan Polygon. Batas biaya pengelolaan OUSG adalah 0,15%, dan biaya ini dibebaskan hingga 1 Juli 2026. Pada Mei 2026, Ondo bermitra dengan Kinexys milik JPMorgan, Mastercard, dan Ripple untuk menyelesaikan pilot penebusan treasury tokenisasi lintas negara pertama di XRP Ledger, dengan waktu proses di bawah lima detik.
Institusi keuangan tradisional seperti Goldman Sachs dan Franklin Templeton juga mulai menerbitkan produk tokenisasi secara on-chain. Logika mereka konsisten: tokenisasi bukanlah pengganti keuangan tradisional—melainkan peningkatan infrastruktur dasar, menawarkan penyelesaian lebih cepat, biaya operasional lebih rendah, dan akses investor yang lebih luas.
Treasury Tokenisasi: Fondasi Ekosistem RWA
Di antara seluruh kelas aset RWA, treasury tokenisasi menjadi infrastruktur dasar ekosistem. Nilai utamanya terletak pada kemampuan mengaitkan modal on-chain dengan tingkat bunga bebas risiko—komponen vital bagi sistem keuangan yang matang.
Bagi investor, akses ke treasury tokenisasi kini semakin beragam. BlackRock BUIDL tersedia bagi investor terpilih melalui Securitize Markets, dengan setiap token mempertahankan nilai stabil $1 dan dividen harian yang diakumulasi didistribusikan bulanan sebagai token baru langsung ke dompet investor. Ondo OUSG menawarkan eksposur ke surat utang negara AS jangka pendek bagi pembeli terverifikasi, mendukung minting dan penebusan 24/7 menggunakan stablecoin.
Platform baru yang muncul di 2026 semakin menurunkan hambatan masuk. Platform pengembangan Web3 asal Swiss, Enso, meluncurkan aplikasi RWA pada Juni 2026, membuka perdagangan lebih dari 500 aset tokenisasi, termasuk saham AS, ETF, Treasury, komoditas, dan stablecoin. Bybit juga meluncurkan platform RWA Earn pada Juni, memberikan akses bagi pengguna terverifikasi ke dana obligasi tokenisasi yang dikelola PIMCO dan CMB International. Kesamaan dari platform-platform ini adalah menggabungkan kerangka kepatuhan keuangan tradisional dengan kemampuan penyelesaian instan blockchain.
Sinergi DeFi dan RWA: Dari Paralel Menuju Interseksi
Integrasi RWA dan DeFi tengah mengubah logika fundamental keuangan on-chain. Treasury tokenisasi kini tak lagi sekadar aset simpanan—tetapi mulai digunakan sebagai agunan di protokol peminjaman DeFi.
Pada Mei 2026, dana treasury tokenisasi VanEck VBILL yang diterbitkan Securitize, terdaftar di platform peminjaman DeFi Euler, memungkinkan investor menggunakan surat utang pemerintah AS tokenisasi sebagai agunan on-chain. Artinya, pemegang treasury tokenisasi dapat memperoleh likuiditas melalui pinjaman tanpa harus menjual aset dasar—versi blockchain dari pasar repo tradisional.
Ondo Global Markets menawarkan dimensi integrasi lain: akses on-chain ke aset yang terdaftar di AS melalui tokenisasi. Token merepresentasikan eksposur ke sekuritas tradisional yang disimpan di pasar teregulasi, dengan perdagangan tetap terhubung ke sistem pasar AS. Smart contract melakukan minting atau penebusan token pada harga yang sesuai. Antara Februari hingga April 2026, Ondo melaporkan selisih harga antara token dan aset dasar tetap dalam dua basis poin untuk mayoritas perdagangan, dengan 95% transaksi dalam lima basis poin.
Konsistensi harga ini menjadi indikator utama kematangan RWA tokenisasi—artinya, aset tokenisasi tak lagi menjadi instrumen spekulatif premium atau diskon, melainkan representasi on-chain yang akurat dari harga aset tradisional.
Risiko, Tantangan, dan Kendala Struktural
Ekspansi tokenisasi RWA bukan tanpa batas. Memahami kendala ini penting untuk menilai prospek jangka panjang sektor ini.
Ketidakpastian regulasi adalah risiko struktural terbesar. Setiap yurisdiksi berbeda dalam mengklasifikasikan aset tokenisasi, penerapan hukum sekuritas, dan penegakan kepatuhan anti-pencucian uang. Meski GENIUS Act di AS telah memberikan kerangka regulasi untuk stablecoin dan aset tokenisasi, koordinasi regulasi global masih dalam tahap awal.
Kedalaman likuiditas juga menjadi kendala nyata. Walaupun pasar treasury tokenisasi telah melampaui $16 miliar, angka ini masih sangat kecil dibandingkan puluhan triliun di pasar treasury tradisional. Ketahanan aset tokenisasi on-chain terhadap kondisi pasar ekstrem masih belum teruji dalam satu siklus penuh.
Risiko teknis juga signifikan. Pada Mei 2026, kontrak minting StablR dieksploitasi akibat kerentanan multisig 1-dari-3, memungkinkan penyerang mencetak 8,35 juta USDR dan 4,5 juta EURR tanpa agunan, yang kemudian dijual masif di bursa terdesentralisasi, menyebabkan USDR turun ke $0,25. Insiden ini mengingatkan pasar bahwa kepercayaan pada aset tokenisasi tidak hanya bergantung pada kualitas aset dasar, tetapi juga pada keamanan smart contract.
Penilaian McKinsey sendiri tetap berhati-hati. Dalam skenario dasarnya, adopsi aset tokenisasi akan berlangsung "dalam gelombang," dengan reksa dana, obligasi, dan pinjaman sebagai pelopor. McKinsey mencatat bahwa adopsi tokenisasi secara luas "masih jauh"—bukan sebagai penyangkalan tren, melainkan penilaian realistis atas timeline.
Dari $26,4 Miliar ke $2 Triliun: Jalur dan Tonggak
McKinsey memproyeksikan $2 triliun (dasar) hingga $4 triliun (optimistis) pada 2030. Citigroup memperkirakan $5 triliun hingga $6 triliun. Boston Consulting Group memperkirakan $9,4 triliun. Estimasi Standard Chartered lebih dari $30 triliun.
Perbedaan ini mencerminkan definisi "tokenisasi" yang beragam—apakah termasuk stablecoin, CBDC, atau hanya aset di blockchain publik. Namun, terlepas dari metodologi, semua proyeksi mengarah ke satu arah: skala $26,4 miliar saat ini hanyalah titik awal.
Analis Bernstein mendefinisikan 2026 sebagai tahun pertama "supercycle" tokenisasi. Penilaian ini tidak didasarkan pada proyeksi linier, melainkan pada tiga pergeseran struktural yang dapat diverifikasi: institusi keuangan tradisional beralih dari pengamat menjadi pelaku (BlackRock, Goldman Sachs, Franklin Templeton telah menerbitkan produk on-chain); kerangka regulasi mulai terbentuk dari nol (GENIUS Act, MiCA, dan lainnya); serta infrastruktur teknis berkembang dari fragmentasi menuju komposabilitas (multi-chain deployment, interoperabilitas lintas rantai, integrasi DeFi).
Gabungan ketiga pergeseran ini mengubah tokenisasi RWA dari "konsep menjanjikan" menjadi "infrastruktur keuangan operasional".
Kesimpulan
Pada Juni 2026, kapitalisasi pasar RWA on-chain sekitar $26,4 miliar. Treasury tokenisasi telah melampaui $16 miliar. Kontrak perpetual RWA mencatat volume perdagangan satu kuartal sebesar $524,8 miliar. BlackRock BUIDL memperoleh peringkat AAA-mf dari Moody’s. Ondo OUSG menyelesaikan penebusan lintas rantai dan lintas negara dalam hitungan detik.
Ini bukan prediksi. Ini adalah fakta yang sudah terjadi.
Pasar $2 triliun yang digambarkan McKinsey berawal dari fakta-fakta ini dan berkembang mengikuti jalur logis yang dapat diverifikasi. Di sepanjang jalur ini, terdapat gesekan regulasi, risiko teknis, dan kendala likuiditas. Namun arahnya jelas—aset dunia nyata bergerak dari off-chain ke on-chain, dari kas institusional ke protokol DeFi, dari penyelesaian T+2 ke pengiriman instan T+0.
Bagi investor dan profesional yang berfokus pada sektor ini, pertanyaan inti bukan lagi "Apakah tokenisasi RWA akan terjadi?" melainkan "Saat hal itu terjadi, bagaimana nilai dan likuiditas akan terdistribusi ulang?" Jawaban atas pertanyaan ini akan terungkap secara bertahap dalam empat tahun supercycle mendatang.




