S&P 500 ditutup pada 7.473,47 pada 22 Mei, naik 27,75 poin, atau 0,37%, ketika Wall Street mendorong pasar menuju wilayah rekor baru. Futura Nasdaq diposisikan empat poin lagi dari rekor tertinggi sepanjang masa, sementara futura S&P 500 diperdagangkan delapan poin di bawah level historis. Pasar saham AS ditutup pada 25 Mei 2026, dalam rangka memperingati Memorial Day, dengan perdagangan dijadwalkan untuk dilanjutkan pada Selasa, 26 Mei 2026.
Kenaikan ini mencerminkan optimisme investor yang terkait dengan tanda-tanda potensi kesepakatan damai AS-Iran serta meningkatnya antusiasme terhadap pertumbuhan laba yang didorong oleh kecerdasan buatan. Strategi Wall Street telah merespons dengan prakiraan yang ditingkatkan, menandakan keyakinan pada kenaikan pasar lebih lanjut.
UBS Menaikkan Target Akhir Tahun S&P 500
UBS Global Wealth Management menaikkan target akhir tahun 2026 untuk S&P 500 menjadi 7.900, dari 7.500. Perusahaan juga memperkenalkan prakiraan Juni 2027 sebesar 8.200.
Menurut UBS, belanja konsumen yang tetap tangguh, investasi infrastruktur AI yang berlanjut, dan dukungan Federal Reserve mendukung prospek yang lebih kuat. Perusahaan menaikkan estimasi laba per saham 2026 untuk indeks tersebut menjadi $335, dari $310. Permintaan semikonduktor dan kenaikan harga chip memori menyumbang hampir setengah dari kenaikan laba, kata perusahaan. Kenaikan sektor energi yang terkait dengan harga minyak lebih tinggi dan meningkatnya belanja pusat data juga berkontribusi pada peningkatan tersebut.
UBS mempertahankan pandangan “menarik” pada saham AS meski kekhawatiran tentang tekanan inflasi yang terkait dengan ketegangan di Timur Tengah terus meningkat.
Laba S&P 500 kuartal pertama masih berada di jalur untuk naik hampir 29% year over year, menurut data LSEG. Sebagian besar pertumbuhan itu berasal dari perusahaan teknologi berkapitalisasi besar yang diuntungkan dari lonjakan belanja AI global.
JPMorgan Menghadirkan Skenario Agresif
JPMorgan Private Bank menyajikan skenario prakiraan yang lebih agresif untuk indeks acuan. Bank mengatakan S&P 500 berpotensi naik di atas 9.000 pada pertengahan 2027, yang mencerminkan potensi kenaikan sekitar 22% dari level saat ini.
JPMorgan menekankan bahwa skenario ini tidak mewakili prakiraan skenario dasarnya. Namun, para analis berpendapat bahwa kenaikan produktivitas AI dapat mendorong pertumbuhan laba perusahaan yang lebih kuat tanpa menciptakan inflasi berlebihan. Bank membandingkan kondisi saat ini dengan boomb teknologi akhir 1990-an, ketika pertumbuhan produktivitas dipercepat dan S&P 500 memberikan lima tahun berturut-turut dengan kenaikan melebihi 20%.
Saham teknologi memimpin pasar lebih tinggi sepanjang 2026. Sektor teknologi di dalam S&P 500 naik 23% year to date, mengungguli kenaikan indeks yang lebih luas yang sekitar 8%.
Harga Minyak dan Ketegangan Iran Menimbulkan Risiko
Wall Street tetap sangat peka terhadap perkembangan yang melibatkan Iran dan Selat Hormuz. Para analis memperingatkan bahwa konflik yang berkepanjangan atau gangguan pasokan dapat mendorong harga minyak secara signifikan lebih tinggi, sehingga memicu inflasi di perekonomian yang lebih luas. Harga energi yang lebih tinggi sering kali meningkatkan biaya transportasi dan manufaktur, yang pada akhirnya dapat memberi tekanan pada konsumen serta margin laba perusahaan.
UBS mengakui bahwa ketegangan di kawasan yang belum terselesaikan dapat melemahkan beberapa pendorong bullish pasar jika harga minyak dan suku bunga terus naik.
Level Teknis dan Momentum Pasar
Secara teknis, S&P 500 terus diperdagangkan di dalam saluran kenaikan jangka panjang dan berada dekat dengan garis tren resistensi kunci. Indeks baru-baru ini menyentuh rekor tertinggi intraday sepanjang masa di 7.517,12 pada 14 Mei dan tetap dekat dengan level tersebut menjelang masuknya minggu perdagangan baru.
Untuk saat ini, momentum berpihak pada para bull. Investor terus memantau inflasi, harga minyak, dan pertumbuhan laba AI secara ketat saat pasar mendekati zona pemecahan (breakout) kritis lainnya.