Grab melaporkan laba bersih AS$120 juta untuk Q1 2026, dengan pendapatan naik 24% year-on-year menjadi AS$955 juta, menurut Grab Holdings Limited. Pengguna aktif bulanan yang melakukan transaksi mencapai rekor 52 juta, sementara nilai kotor barang dagangan on-demand naik 24% menjadi AS$6,1 miliar.
Adjusted EBITDA meningkat 46% menjadi AS$154 juta pada kuartal tersebut. Grab mempertahankan panduan penuh tahun 2026 dan melaporkan adjusted free cash flow trailing 12 bulan sebesar AS$489 juta.
Meski hasil kuartalannya solid, kekhawatiran investor masih berlanjut. Prakiraan pendapatan penuh tahun 2026 Grab lebih rendah dari ekspektasi Wall Street, dan saham perusahaan turun hampir 30% tahun ini, menurut laporan tersebut.
Anthony Tan, CEO Grab, menyebut kenaikan harga bahan bakar yang terkait dengan perang di Iran sebagai tantangan yang masih berlangsung bagi bisnis. Untuk mengatasi tekanan biaya, Grab menerapkan fitur AI baru yang ditujukan untuk menurunkan biaya operasional, termasuk opsi perjalanan berkelompok yang dapat memangkas tarif hingga 40%.
Pertumbuhan kuartalan didorong oleh penggunaan AI untuk membuat layanan lebih murah dan lebih efisien. Pendekatan ini mencerminkan pergeseran yang lebih luas di antara perusahaan digital mapan menuju operasi yang lebih ketat dan mengambil lebih banyak nilai dari setiap pelanggan selama periode ekonomi yang tidak pasti.
Grab juga mengumumkan kesepakatan senilai AS$600 juta untuk mengakuisisi foodpanda Taiwan, bisnis pengantaran makanan Delivery Hero di Taiwan. Perusahaan telah menjelaskan ini sebagai langkah pertamanya keluar dari Asia Tenggara.